Munculnya Boediono sebagai pasangan SBY dalam pemilu pilpres tahun 2009 menuai pro kontra. Salah satu isu yang dihembuskan bahwa Boediono adalah penganut paham neoliberalisme yang terbukti menyengsarakan Inonesia, banyak menjadi sorotan publik. Banyak kebijakan ekonomi yang pro pasar dan mencekik masyarakay kebanyakan adalah bukti tentang kebijakan ekonomi neoliberal.

Seolah-olah masyarakat Indonesia baru bangun dari tidurnya, hanya gara-gara Boediono maju jadi cawapres maka Indonesia semakin mengukuhkan dengan liberalismenya. benarkah calon-calon yang lain pun bersih dari neoliberalisme?

Sebagai orang akedemisi Boediono tentu saja menganut apa yang selama ini ia ayakini dan pahami. Buku-buku ekonomi dan kurikulum yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah contoh kecil bagaimana liberalisme telah ditanamkan. Tanpa menyadari, tentu saja Boediono “ogah” jika disebut neolib. Semua orang pasti akan mengaku bahwa mereka adalah reformis yang menggagas kesejahteraan bagi masyarakat.

Terlepas dari pro kontar tersebut, kita memang perlu mendudukakan kembali bahwa secara de facto Indonesia memang negara Kapitalis yang sekarang ini lebih mengikut kepada liberalisme. Sayangnya, Indonesia bukanlah negara kapitalis yang menjadi subyek, tetapi menjadi negar aobyek penderita.

Ada sebuah tulisan dari Kwik Kian Gie yang menantang Boediono untuk berdebat mengenai ekonomi yang diemban oleh Boediono. Kwik ingin membuktikan bahwa Boediono adalah salah satu pengikut fanatisme ekonomi liberal. Buku yang ditulis Kwik diberi judul “Indonesia Menggugat Jilid II?”. Sebuah buku berisi kritikan terhadap pidatao Boediono dan pandangan-pandangannya yang neoliberal.

Untuk mendapatkan ebooknya, silahkan di download.

DOWNLOAD