Berani Berkorban karena Allah
Oleh: Zaidan Ats-tsalis
Suatu hari,ketika Mush’ab bin Umair sedang memberikan petuah/ceramah kepada orang-orang , tiba-tiba disergap Usaid bin Hudhair-kepala suku kabilah Abdul asyhal- di madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan menyentakkan lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush’ab yang dianggap akan mengacau dan menyelewengkan kaumnya dari agama mereka.
Melihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar, Mush’ab bin Umair tetap tenang dengan air muka yang tidak berubah. Usaid berdiri di depan Mush’ab dan membentak “Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!”
Dengan tenang Mush’ab berkata ” Kenapa tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”. Sebagai orang yang berakal dan cerdas, Usaid pun menerima tawaran Mush’ab sehinga ia mau mendengarkan dakwah Mush’ab, tanpa berselang lama Usaid pun memutuskan masuk Islam. Mendengar Usaid telah masuk Islam membuat penasaran Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin ’Ubadah untuk menemui Mush’ab, sehingga mereka berdua pun masuk Islam. Masuk Islam para ketua/pimpinan bani membuat kaumnya masuk Islam.
Belajar dari Mush’ab bin Umair, sungguh indah cara Mush’ab menawarkan kebenaran tanpa kekerasan. Penjelasan yang meyakinkan dari kitabullah (Al Qur’an) bisa mencairkan hati-hati yang keras. Perubahan seseorang dimulai dari perubahan pemahaman. Mush’ab melakukannya dengan sempurna, komunikasi yang baik dan efektif mampu mentransfer kebenaran dan kebaikan.
Di jaman ini, begitu banyak yang menawarkan kebenaran tetapi cara yang dilakukannya tidak merubah pemahaman/pemikiran sehingga opini negatif begitu mudah masuk semisal karena cara bicara yang kasar dan menyakitkan hati yang mendengar, membuat orang yang diajak untuk berbuat baik menolak ajakan tersebut. Bukan karena isi ajakan tetapi cara yang si pengajak yang kurang berkenan.
Iman yang kuat membuat Mush’ab tidak mundur sedikitpun walau diacungkan senjata. Mush’ab sangat yakin apa yang dibawanya adalah haq dari Allah. Ia juga tahu resiko penolakan suatu kaum bisa melukai perasaan dan fisiknya.
Dari iman itu pula, terpancar keberanian pada diri Mush’ab. Keberanian dalam berpegang teguh pada tiap kebenaran dalam Al Qur’an. Tidak sedikit pengorbanan yang diberikan demi keberanian tersebut.
Sejak awal masuk Islam Mush’ab sudah diuji oleh ibunya sendiri yang sangat benci terhadap Islam sehingga ibunya tega mengusir Mush’ab dan menghapus/memutus kekeluargaan. Secara manusiawi seorang anak pastilah mencintai seorang ibu yang telah membesarkannya dengan kasih sayang, apalagi kehidupan Mush’ab sangat tercukupi bahkan bisa dibilang mewah, hingga Rasulullah saw menggambarkannya dengan sabdanya:”Dahulu saya lihat Mush’ab tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.
Demi Islam, Mush’ab berani berkorban dengan apa yang sangat dicintainya yaitu ibu. Saat perpisahan, sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata”Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi!”. Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berkata “Wahai bunda! Telah anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanada menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa Tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Perkataan yang sungguh luhur; ketika ibunya membenci karena keislamannya. Mush’ab membalas dengan nasihat Tauhid dan keimanan kepada Rasulullah. Mush’ab berhasil membuktikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi kecintaan terhadap dunia. Sebagai bentuk bakti kepada ibunya adalah dengan mengajak masuk kepada Islam. Mush’ab tidak rela dan kasian melihat kekufuran ibunya.
Bagaimana dengan kita? Sudah sejauh mana pengorbanan dan kecintaan kita kepada Islam?
- MENGHAFAL Al QUR’AN
- Biografi Ringkas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
- Menghidupkan Hati Dengan Ilmu
- Bekerja Dengan Halal
- Optimis
- Berani Berkorban karena Allah
- Hanya Ada dua Jalan
- Berbaktilah Kepada Orang Tua
- Menangkal Panah-Panah Setan
- Memupuk Sikap Tangguh
- Manajemen Qalbu: Melumpuhkan Senjata Syetan
- Faidhul Mu'in
- Nasehat Bagi Pemuda Muslim Dan Penuntut Ilmu
This post has one comment
October 28th, 2009
dunia islam tanpa da’wah sepi dan jauh dari islam itu sendiri,syukur alhamdulillah di negeri ini masih banyak yg semangat akan da’wah islamiyah.