MENGHAFAL Al QUR’AN
Fudhail bin ‘Iyadh berkata “pembawa (penghafal) Al qur’an adalah pembawa bendera Islam, maka ia tidak boleh bermain-main bersama orang-orang yang senang bermain , tidak lupa diri bersama orang yang bercanda, sebagai bentuk penghormatan terhadap hak Allah”.
Menghafal alqur’an bukanlah perkara yang mudah, dibutuhkan keseriusan dan kesungguhan serta keistiqomahan dalam menghafalnya. Meskipun ayat-ayat Qur’an mudah untuk dihafalkan namun jika tidak terus diulang dan diamalkan akan mudah hilang, sebagaimana hadits dari Musa Al Asy’ari r.a dari Nabi SAW bersabda : “Teruslah jaga hafalan Al qur’an, karena Dzat yang jiwa Muhammad berada di genggaman-Nya, ia lebih cepat lepas dari lepasnya unta dari ikatannya”(HR.Bukhari dan Muslim)
Untuk menumbuhkan cinta kepada Al qur’an maka perlu pula ditumbuhkan pemahaman tentang pentingnya Al qur’an. Kita semua paham bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar, hadirnya kita dengan proses kelahiran dan kembalinya kita kepada sang Pencipta dengan proses kematian. Sebagai hamba Allah, kita membutuhkan petunjuk yang benar agar berjalan di jalur yang telah ditetapkan oleh Sang Khaliq Al Mutadabbir. Petunjuk itu telah diberikan dan dibawa oleh para RasulNya. Sekarang, petunjuk terupdate dan yang terahir hingga ahir kiamat adalah Al Qur’an dan assunnah.
Dengan menghafal al qur’an akan memudahkan kita berjalan sesuai petunjukNya. Islam pun telah mengajarkan bagaimana keutamaan di dalam menghafal Al qur’an. Dari Abi Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda “ Penghafal Al qur’an akan datang pada hari kiamat kemudian Al qur’an akan berkata : Wahai Tuhanku, bebaskanlah ia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karomah (kehormatan), Al qur’an kembali meminta : Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu: bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “
Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghapal dan ahli Al Quran saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran. Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).
Marilah saudaraku kita menghafal Al qur’an. Hidup di dunia hanya sekali sangatlah tidak merugi jika kita mempunyai target dalam hidup ini sebelum kematian menjemput untuk senantiasa menghafal Al Qur’an dan menjadi “keluarga Al Qur’an”. Agar kita selalu istiqomah untuk menghafal, mempelajari dan mengamalkan serta mendakwahkan Al quran maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Selalu bersama Al qur’an. Yaitu dengan cara terus membacanya dari hafalannya, atau dengan membaca mushaf, atau juga dengan mendengarkan pembaca Al qur’an yang bagus tajwidnya. Penghapal Al Quran harus menjadikan Al Quran sebagai temannya dalam kesendiriannya, serta penghiburnya dalam kegelisahannya, sehingga ia tidak berkurang dari hapalannya. Qasim bin Abdurrahman berkata: Aku bertanya kepada sebagian kaum sufi: tidak ada seorangpun yang menjadi teman kesepianmu di sini? Ia mengulurkan tangannya ke mushaf, dan meletakkannya di atas batu dan berkata: inilah temah kesepianku!
- Berakhlaq dengan akhlaq al-qur’an. Sebagian salaf berkata: “ada seorang hamba yang saat memulai membaca satu surah Al Quran, maka malaikat akan terus berdoa baginya hingga ia selesai membacanya. Dan ada orang yang membaca satu surah Al Quran, namun malaikat terus melaknatnya hingga ia selesai membacanya”. Seseorang bertanya kepadanya: “mengapa bisa terjadi seperti itu?”. ia menjawab: “Jika ia menghalalkan apa yang dihalalkan Al Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Quran maka malaikat akan berdoa baginya, namun jika sebaliknya maka malaikat akan melaknatnya!”.
- Ikhlas dalam Mempelajari Al qur’an. Para pengkaji dan penghapal Al Quran harus mengikhlaskan niatnya, dan mencari keridhaan Allah SWT semata, dan semata untuk Allah SWT ia mempelajari dan mengajarkan Al Quran itu, tidak untuk bersikap ria’ (pamer) di hadapan manusia, juga tidak untuk mencari dunia. “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al Kahfi: 110)
TIPS Cara Praktis Menghafal Al Qur’an dari Dr. Abdul Muhsin Al Qasim ( Imam dan Khatib masjid Nabawi) :
- Bacalah ayat pertama 20 kali
- Bacalah ayat kedua 20 kali
- Bacalah ayat ketiga 20 kali
- Bacalah ayat keempat 20 kali
- Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
- Bacalah ayat kelima 20 kali
- Bacalah ayat keenam 20 kali
- Bacalah ayat ketujuh 20 kali
- Bacalah ayat kedelapan 20 kali
- Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
- Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.
- MAHABBAH FILLAH
- Tragisnya Penerapan Hukum di Indonesia
- MENGHAFAL Al QUR’AN
- MENGHAFAL Al QUR’AN
- Biografi Ringkas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
- Menghidupkan Hati Dengan Ilmu
- Bekerja Dengan Halal
- Optimis
- Berani Berkorban karena Allah
- Hanya Ada dua Jalan
- Berbaktilah Kepada Orang Tua
- Menangkal Panah-Panah Setan
- Wajah & Hati Yang Cantik
This post has 3 comments
November 9th, 2009
Artikelnya memberi motivasi. Syukran tadz! Oia ana udah baca bbrp tulisannya Goenawan Mohamad seprti ini,
“Memang harus saya katakan, saya memilih tetap dalam agama saya (Islam-pent)sekarang bukan karena saya anggap agama itu paling bagus. Saya tak berpindah ke agama lain karena saya tahu dalam agama saya ada kebaikan seperti dalam agama lain, dan dalam agama lain ada keburukan yang ada dalam agama saya.” Dikutip dari: Murtad-Caping.
Na’udzubillah..
Gimana komentar antum?
November 10th, 2009
Pemikiran sebagaimana yg disampaikan Gunawan, berakar dari akidah selain Islam, yaitu sekulerisme. Paham sekuler telah banyak melahirkan paham-paham cabangnya seperti singkritisme dan pluralisme. Agama bagi penganut akidah sekulerisme memang bukanlah maslah yg vital, bagi mereka agama hanyalah maslah pribadi yg ga ada urusan dg org lain.
penganut sekulerisme sangat memegang kuat paham “cuek” thd akidah apapun selama tidak dijadikan sebagai standart kehidupan.
Jadi, menurut saya siapapun termasuk Gunawan, adalah hal biasa berpandangan seperti itu krn merupakan cerminan akidahnya yaitu sekuler.
November 10th, 2009
Say NO to Secularism,
Just Islam for all.
Kita mulai menghafal Al-Quran di rumah. Doakan ya tadz..